Tarawih Dan Imam Gregetan

Sabtu, Juni 25th 2016. | Kolom |

Saifuddin ZainuriOleh : Saifuddin Zainuri (Zebot)

Tarawih adalah shalat sunah yang dilakukan pada tiap bulan Ramadhan. Sholat sunah yang penekanan suruhanya lebih kuat, dimana waktu pelaksanaanya adalah sehabis sholat isya sampai terbit fajar di bulan Ramadhan.

Dalam shalat tarawih, tidak ada keterangan langsung yang shoreh dari Rasulullah SAW tentang jumlah rakaat yang ada, hanya keterangan seperti yang diterangkan oleh Abi Hurairah ra, “Rasulullah saw menggemarkan ibadah di bulan ramadhan, akan tetapi beliau tidak menganjurkanya dengan keras. Beliau berkata : “Barang siapa banyak beribadah di bulan ramadhan dengan iman dan ihtisaban, maka diampunkan baginya dosa-dosanya yang terdahulu”. H.R. Muslim.

Sholat malam yang dilakukan pada bulan ramadhan ini sendiri dinamakan dengan tarawih karena shalat tersebut terdiri dari beberapa rakaat, dimana setiap empat rakaat berhenti beristirahat. Tarawih berakar dari kata raaha yang berarti “istirahat“ atau “ngangin”.

Jumlah rakaat shalat tarawih bervariasi, namun perbedaan yang terlihat hanya shalat tarawih yang 20 rakaat dan 11 rakaat. Semua mempunyai dalil-dalil yang jadi peganganya. Shalat tarawih dengan 20 rakaat dan 3 witir berpegangan kepada hadist dari Ibnu Abbas. Ia berkata, “Nabi saw melakukan shalat pada bulan ramadhan 20 rakaat dan witir”. H.R. Tabrani.

Disamping hadist tersebut, juga H.R. Baihaqi dengan isnad dari Sa ‘ib bin Yazid, sahabat Nabi, beliau berkata, “Para sahabat melaksanakan tarawih di masa Umar bin Khattab ra. pada bulan ramadhan dengan 20 rakaat”. Imam Malik dalam kitan Muwatthonya meriwayatkan, “Para sahabat melaksanakan ibadah malam pada bulan ramadhan di zamanya Umar bin Khattab dengan 23 rakaat”.

Shalat tarawih dengan 11 rakaat berdalil dari hadist riwayat Ibnu Hibban dengan isnad dari Jabir bin Abdullah: “Rasulullah saw melakukan shalat pada bulan ramadhan sebanyak 8 rakaat dan wittir”. Juga berdalil dengan hadist riwayat Bukhari dan Muslim isnad dari Aisyah : “Nabi saw tidak pernah shalat malam melebihi 11 rakaat baik di bulan ramadhan maupun selainya“.

Namun, jumlah rakaat tarawih bervariasi yang dilaksanakan oleh masyarakat hendaknya jangan menjadikan keretakan antar sesama. Para ulama salaf juga bervariasi dalam menjalankan shalat tarawih, ada yang sebelas rakaat, tiga belas rakaat, dua puluh tiga rakaat, tiga puluh enam rakaat, tiga puluh sembikan rakaat, dan empat puluh rakaat.

Sedangkan pelaksanaan tarawih dengan berjamaah itu sendiri, dimulai dari khalifah Umar bin Khattab. Beliau mengambil keputusan untuk mengumpulkan orang yang berkelompok-kelompok dalam menjalankan shalat sunah di bulan ramadhan dalam satu kumpulan dan di imami oleh qori (imam yang bagus bacaanya). Sahabat Ubay bin Kaáb yang dipilih oleh Khalifah Umar bin Khattab untuk menjadi imam. Setelah keputusan itu, hari berikutnya shalat tarawih dilakukan secara berjamaah hingga sekarang.

Imam Geregetan
Dalam shalat berjamaah, seorang imam haruslah qori seperti yang dicontohkan oleh sahabat Ubay bin Ka ‘ab. Imam Ibnu Qasim al – Ghazi mengatakan, “qori tidak sah mengikut terhadap imam umi (orang yang bacaan qur’anya tidak memakai tajwid ). “Qori adalah orang yang bagus bacaan fatihanya, yakni tidak menciderai bacaan baik makhraj – sifat huruf, tasdid , panjang – pendeknya maupun waqof- washolnya” komentar ahli fiqih.

Namun, di masyarakat kita, khususnya di masjid-masjid pinggiran, masih banyak ditemukan, dalam shalat tarawih, imam geregetan (Baca: kemauan dan PD tinggi dengan tanpa dibarengi pengetahuan bacaan yang bagus).

Kreteria imam dalam sholat adalah yang bacaan fatihahnya bagus, sebab fatihah adalah rukun. Ketika ada dua orang yang sama-sama bagus bacaanya, maka yang jadi imam adalah yang faqih (penguasaan ilmu fiqihnya dalam). Ketika sama-sama faqih, maka wara’, kemudian yang paling disenangi jama‘ah.

Imam juga harus memperhatikan jama‘ah. Artinya shalat yang ia kerjakan hendaknya jangan terlalu lama sebab bisa jadi di belakangnya ada makmum yang punya udzur. Abi Hurairah meriwayatkan bahwa Rasulullah saw bersabda, “Apabila seorang di antara kamu mengimami orang-orang, maka hendaknya ia memperpendek sholatnya, karena sesungguhnya di antara mereka ada yang kecil, besar, lemah, dan yang mempunyai keperluan. Bila ia sholat sendiri, maka ia boleh sholat sekehendaknya”. Muttafaq Alaihi.

Tarawih dengan berjamaah di masjid adalah kebagusan. Disamping memperingan pelaksanaan, juga dapat menjadi pembelajaran bagi generasi berikutnya plus menjadi syiar. Kebagusan itu akan bertambah nilainya saat pelaksanaanya dengan benar. Imam yang memimpin shalat adalah orang yang paling bagus bacaan qur’an, pengetahuan fiqihnya.

Janganlah hanya karena mempunyai kedudukan di masyarakat, hanya karena mempunyai keberanian tampil, karena kepingin disebut alim lalu ngotot maju menjadi imam dengan tanpa mempertimabangkan apa bahayanya seorang imam. Imam gregetan bisa membuat fitnah, juga bisa menjadi ‘gergaji’ pemotong tiang-tiang agama.

Bukankah sesuatu kerjaan yang dipegang oleh bukan ahlinya, maka akan runtuh? ,“fasadun kabirun alimun mutahtiqun wakbaru minhu jahilun mutanasikun”. (kerusakan besar dalam agama Islam adalah orang alim yang tidak beribadah, namun lebih besar dari itu adalah orang bodoh ahli ibadah). Wallahu a’lam bishawab,-

(Penulis adalah Pengasuh Pondok Pesantren Bah Sarimah Kec.Silou Kahean – Simalungun)

Print Friendly, PDF & Email

Related For Tarawih Dan Imam Gregetan