Puasa, Elite dan Keselamatan

Minggu, Juli 3rd 2016. | Kolom |
Saifudin Zainuri (Zebod)

Saifudin Zainuri (Zebod)

Oleh : SAIFUDIN ZAINURI (ZEBOD)
Puasa secara bahasa berarti menahan. Sedangkan menurut istilah adalah menahan yang membatalkan dengan jalan husus. Begitu yang diterangkan oleh al- Haitimi dalam Minhajul Qowim. Menahan nampaknya sesuatu yang sangat penting dalam kehidupan, sehingga syariat memasukanya dalam ritual. Kalau kita yakin apa –apa yang di bawah oleh syariat itu kebaikan besar bagi manusia, tentu tidak heran menahan itu menjadi ritual bahkan menjadi rukun Islam, tidak main-main.

Menahan berkaitan dengan anggota bathin. Karenanya puasa itu bisa dikerjakan hanya oleh orang –orang yang mempunyai keimanan dan kesadaran. Ini bisa terlihat dalam dibentuk passive-nya kalimat dalam ayat yang berkaitan puasa. “Hai orang –orang yang beriman di wajibkan atas kamu puasa…” dengan bentuk passive, tentunya subjeknya tidak terlihat. Artinya, subjek-nya boleh siapa saja yang mempunyai kesadaran. Kalau, dengan ayat tersebut, subjek-nya langsung di sebut Alloh swt, Alloh swt yang mewajibkan puasa kepada manusia, yah boleh; kalau subjek-nya diri sendiri yang menyadari puasa adalah kebutuhan besar bagi tubuh, terlebih-lebih pada masa sekarang, dimana pola hidup dan pola makan yang tidak beratur, yah sah –sah saja; kalau subjek-nya adalah dokter yang mewajibkan puasa untuk pasien-nya mau di operasi, yah juga susah untuk bilang tidak. Singkatnya, puasa karena melihat kenyataan bahwa hampir di semua sendi kehidupan membutuhkan puasa, maka sangat wajar hanya orang yang percaya dan sadar yang akan mampu menjalankanya. Dan itu berkaitan dengan batin.

Menahan juga berkaitan erat dengan bawahan, hamba. Kuncinya tuh disini. Alkisah. Saat nafsu ditanya tentang sejati dirinya dan sejatinya Sang Maha Kuasa. Nafsu mengatakan, “Aku yah Aku, dan Kamu yah Kamu”. Kemudian nafsu di masukan dalam api yang membara. Lalu setelah sekian tahun dikeluarkan dan ditanya seperti pertanyaan yang pertama, Nafsu tetap menjawab, “Aku yah Aku, dan Kamu yah Kamu”. Sampai akhirnya ia di masukan ke siksaan haus dan lapar. Dan ternyata setelah disiksa dengan haus dan lapar, ia menjawab, “Aku adalah Hambamu, dan Engkau adalah Tuhan yang Kuasa.” Nafsu ternyata terkendalikan dari kesombonganya dengan cara haus dan lapar.

Manusia terkadang terseret oleh sifat yang tidak secara fitrahnya seperti terseret kedalam sifat ketuhanan misalnya ingin serba paling; terseret kedalam sifat kehewanan seperti rakus dan syahwat; terseret kedalam sifat syetan seperti iri dan dengki. Untuk menyadarkan bahwa ia seorang manusia yang secara fitrah-nya adalah untuk mengabdi, di butuhkan usaha keras untuk membuang sifat –sifat yang bukan punyaanya, dan menyuburkan kesadaran bahwa seorang hamba harus bersifat layaknya hamba. Nafsu yang membuat manusia terseret. Nafsu juga yang membuat manusia tidak menyadari bahwa dirinya adalah bawahan. Dengan nafsu dikendalikan, manusia akan mengerti siapa penciptanya. “man ‘arafa nafsahu faqod ‘arafa robbahu”, begitulah kalimat yang disampaikan oleh Rosululloh saw. Hadis itu biasa diterjemahkan dengan, “siapa yang mengenal dirinya, maka ia mengenal Tuhanya.” Kata “nafsu” diterjemahkan dengan diri. Kalau melihat dohir lafadz, tentunya kita akan lebih mengerti bahwa “nafsu” di artikan dengan nafsu. Terlihat jelas bahwa ketidak-sadaran seseorang terhadap siapa dirinya dan kewajibanya, juga siapa penciptanya dan hak-haknya adalah dikarenakan oleh nafsu.

Elite dan nafsu
“Elite” dalam kamus bahasa indonesia berarti: “orang-orang pilihan, orang-orang terbaik di masyarakat”. Orang terbaik biasanya juga berarti orang yang menempati tempat terbaik di suatu Negeri. Golongan orang ini dihadapkan banyak godaan. Tidak sedikit orang yang kokoh iman-nya, tapi setelah dihadapkan dengan banyak godaan ia tergerus. Di kasta ini, nafsu biasanya subur-makmur karena keinginanya selalu di turuti. Sampai-sampai tidak masuk akal sekalipun, dipaksain untuk di akalkan dengan alasan.

Kuat dugaan, Imam Ahmad memilih dipenjarakan saat ditawari menjadi hakim (mungkin menteri agama kalau sekarang) karena kesadaran akan beratnya melawan hawa nafsunya. Tidak ada jaminan sekalipun pengetahuan agama mendalam terhadap keselamatan kalau sudah beregelut dengan tempat yang nafsu selalu dimanjakan.

Puasa dengan menahanya datang membawa angin segar harapan. Masalahnya ada pada kesadaran menahan belum menggurita sekalipun di diri orang-orang yang berpuasa. Anggaran 20 M yang di wacanakan oleh elite bisa menjadi cermin bahwa menahan diri yang diajarkan oleh puasa belum terpatri dalam dirinya. “puasalah kamu, maka sehat kamu”, itu kalimat yang tegas dari seorang Nabi. Dengan bahasa lain bisa juga dikatakan, “menahanlah kamu, maka sehat kamu.” kepingin Negeri ini sehat, jelas harus menahan masyarakatnya, terlebih elite-elite-nya yang menentukan kebijakan. Menahan dari keinginan yang tidak-tidak; menahan dari yang kurang berfungsi.

Menahan nafsu lebih baik ketimbang jadi tahananya. Sekali mengikuti, siap-siap kita akan menjadi tahananya. Elite-elite yang tersandung masalah saat ini sedang menjadi tahanan nafsu. Berikutnya mengikut siapa saja yang tidak sanggup menahan nafsunya.

Penutup
“Barang siapa melawan aturan-aturan Alloh, maka sungguh ia telah menganiaya diri sendiri.” Bukan Alloh swt yang rugi lantaran aturanya tidak dituruti oleh hamba-Nya, tapi hambanya sendiri yang rugi. Aturan-Nya berupa puasa adalah sesuatu yang luar biasa mujarab untuk mengobati penyakit apa saja. Penyakit yang terjadi di individu, maupun di golongan. Diindividu seperti lambung, kolestrol, asam urat teratasi dengan menahan banyaknya makanan yang masuk. Di golongan seperti yang kita ketahui bersama akan terhentikan dengan semua unsur golonganya sanggup menahan keinginan nafsunya. Pada akhirnya, dengan syariat puasa individu maupun golongan akan selamat. Dan yang paling kita harapkan Negeri toyyibun warobbun ghofur akan tercipta.- Wallohu ‘alam bishawab

(Penulis Adalah Pengasuh Pondok Pesantren Bah Sarimah, Kec. Silou Kahean – Simalungun)
Saran,Kritik & Masukan ke Email : saifudinzainuri@gmail.com

Print Friendly, PDF & Email
tags: , ,

Related For Puasa, Elite dan Keselamatan