Prasangka, Gosip Dan Kemunduran

Jumat, Agustus 26th 2016. | Kolom |
Saifudin Zainuri (Zebod)

Saifudin Zainuri (Zebod)

Oleh : SAIFUDIN ZAINURI (Jebod)

“…Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka (kecurigaan), karena sebagian dari prasangka itu dosa. dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain…” Q.S. Al- Hujaarat : 12.

Umat Islam belakangan ini sibuk dengan perasaan curiga terhadap sesama terlebih lagi bagi orang awam dan orang yang puas dengan pengetahuan yang dimilikinya. Dan diperparah dengan sajian berita yang menyeret untuk selalu senang mencari-cari kelemahan seseorang baik media cetak maupun elektronik.

Kecurigaan jika tidak dihentikan, maka akan mengajak untuk mencari-cari kesalahan dan pada ujungnya akan menggunjing, menceritakan aib saudaranya sendiri.

Ada tiga mutlaqunnahi (larangan mutlak) yang tersusun dalam ayat tersebut di atas. Pertama : jauhilah kebanyakan persangkaan. Kedua : janganlah mencari-cari keburukan dan ketiga : janganlah menggunjing. Dalam kaidah ushul dilalah mutlaqunnahi adalah haram. Keharaman itu sangatlah wajar sebab memang banyak madhorot yang ditimbulkan oleh ketiganya baik untuk orang lain maupun diri sendiri.

Madhorot Kecurigaan
“Takutlah kamu pada dzon ( prasangka ), sungguh dzon itu paling dustanya perkataan…”H.R. Muslim
Kecurigaan akan menghantar seseorang untuk mengisi hari-harinya dengan ketidak tenangan. Hari -harinya digunakan untuk selalu menerka orang lain yang pada ahirnya tidak bisa beraktifitas positif yang bermanfaat baginya.

Dari kecurigaan, sifat sifat buruk lainya akan tumbuh berkembang dalam diri seseorang. Kecurigaan laksana tanah subur untuk benih-benih keburukan lain seperti mencari-cari kesalahan (tajassus). Kalau sudah sampai ke tangga senang mencari kejelekan orang lain, seseorang akan melihat dirinya penuh sesak dengan kebaikan-kebaikan. Orang lain dilihat salah semua, yang benar hanyalah apa yang dilakukanya. Lebih parah lagi, jika sifat ini tidak berusaha dibuang, akan mempunyai perasaan tidak senang terhadap kesenangan orang lain.

Mereka-reka sangat tidak bermanfaat bagi manusia. Biasanya orang yang senang mereka-reka akan terjebak dalam masalah-masalah yang remeh ; akan membesar – besarkan masalah yang sepele dan terakhirnya tidak segan – segan membicarakan aib yang ada pada orang lain terkhusus terhadap orang yang tidak disenangi.

Dalam agama, jangankan menggunjing, berlebihan berbicara yang tidak bermanfaat adalah tidak dibolehkan, sampai-sampai bertanya pun dibatasi terhadap apa -apa yang bermanfaat. “Hai orang yang beriman janganlah kamu menanyakan hal-hal yang jika diterangkan kepadamu, maka (hal itu) akan menyusahkanmu” Q.S. Al –Maidah : 101.

Bahaya menggunjing tidak hanya untuk si pelaku ; ia akan kehilangan seluruh amal kebaikan yang terkumpul dan bertambah timbangan kejelekan karena berpindahnya seluruh kejelekan orang yang di gunjingkan, tetapi untuk orang yang digunjing, juga untuk perkembangan umat manusia. Kerugian ghibah untuk orang lain adalah ia akan terbatas langkahnya karena aib yang tesebar, terlebih-lebih bila yang di gunjing adalah tokoh. Seorang tokoh itu jangankan kesalahan yang terlihat, yang belum tentu kesalahan juga akan menjadi kesalahan baginya ; kewajaran untuk orang biasa bisa tidak wajar baginya.

Kerugian paling besar disebabkan prasangka yang diiringi ghibah adalah kemunduran umat. Bagaimana tidak mundur, kalau semua sibuk dengan masalah-masalah kecil. Dimatanya suatu kecil menjadi masalah besar, padahal orang-orang yang besar itu mengecilkan masalah besar.

Bukankah sudah sunatullah bahwa orang mau besar harus melalui banjir masalah-masalah besar ? Lalu, kalau semua sibuk terhadap masalah kecil, apakah akan sanggup menghadapi permasalahan besar yang menjadi syarat menjadi besar ?, Allah swt tidak akan memberikan derajat agung terhadap orang yang bermental kecil, karena itu namanya mendzolimi. “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” Q.S. 2 : 286.

Penutup
Untuk tidak terjebak dalam prasangka berlebihan yang membuahkan ghibah, ada beberapa langkah yang ditempuh. Pertama : memikirkan rentetan kerugian prasangka. Pikirkan juga kerugian banyak berbicara . “Lebih baik menahan ucapan daripada menjadi tahananya”. “Diam itu emas, berbicaralah saat menjadi berlian“.

Kedua : menyibukan diri dengan berbagai aktifitas seperti olahraga ; bersilaturahmi dengan orang-orang yang bisa menumbuhkan semangat perubahan dalam hati ; memikirkan sudah seperberapakah langkah diri mengemban amanatNya sebagai pemimpin ; memperbanyak berteman dengan buku. “Anda akan mengetahui bahwa sebulan bergaul dengan buku akan lebih baik daripada bergaul dengan orang seumur hidup. “Begitu kata Syaikh Aidh al-Qarni,- Wallahu a’lam bishawab.

(Penulis Adalah Pengasuh Pondok Pesantren “Bah Sarimah” Kec. Silou Kahean Kab.Simalungun)

Saran dan kritik ke Email : saifudinzainuri@gmail.com

Print Friendly, PDF & Email
tags: , , ,

Related For Prasangka, Gosip Dan Kemunduran