Pinter Merasa Yes, Merasa Pinter No !

Jumat, September 30th 2016. | Kolom |
Saifudin Zainuri (Zebod)

Saifudin Zainuri (Zebod)

Oleh : Saifudin Zainuri (Zebod)

Manusia, secara hakiki, lahir, wujud, untuk mengabdi kepada Sang khalik. Kata Abdi bisa berarti ibadah, juga bisa dengan arti hamba. Kalau diteliti kedua arti dari kata ‘abdi’ mempunyai hubungan erat. Mengabdi akan terwujud bilamana di dalam diri lahir sikap layaknya seorang hamba. Karena seorang hamba, sudah sewajarnya bersikap sebagaimana hamba.

Semua di dunia ini diciptakan menempati posisinya masing-masing. Semua, kecuali manusia, menyadari dan tunduk kepada aturan yang telah ditetapkan. Sapi, contohnya, walau ia lebih mahal harganya dengan asbak rokok, tetapi ia menerima di tempatkan di belakang rumah dan tidak ‘iri’ untuk ingin di ruang tamu.

Sepatu juga, ia tidak ‘iri’ dengan kopiah, padahal semua tahu sepatu lebih berharga dari kopiah. Katanya, tata surya juga mengikuti aturan ini. Semua menjalankan sesuai posisinya masing-masing. Andai saja ada salah satu darinya yang mangkir, merajuk tidak mau bergerak dengan pergerakanya, maka dunia ini akan hancur bertabrakan. Al-Qur’an, dalam masalah ini, menyampaikan :

“langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. dan tak ada suatupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun.” QS. 17 :44

“tidaklah kamu tahu bahwasanya Allah: kepada-Nya bertasbih apa yang di langit dan di bumi dan (juga) burung dengan mengembangkan sayapnya. masing-masing telah mengetahui (cara) sembahyang dan tasbihnya, dan Allah Maha mengetahui apa yang mereka kerjakan” QS. 24 :41.

Di atas saya katakan semua kecuali manusia juga berdasarkan al-Qur’an.
“Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi, kecuali akan datang kepada Tuhan yang Maha Pemurah selaku seorang hamba”QS. 19:93.

“Dan apabila dikatakan kepada mereka: “Sujudlah kamu sekalian kepada yang Maha Penyayang”, mereka menjawab:”Siapakah yang Maha Penyayang itu? Apakah Kami akan sujud kepada Tuhan yang kamu perintahkan kami (bersujud kepada-Nya)?”, dan (perintah sujud itu) menambah mereka jauh (dari iman).QS. 25:60.

Semeraut. Begitu memang kalau tidak menjalankan peran sesuai perintah dari Sang Maha sutradara. Sudah dijadikan peran seorang hamba, eh malah memerankan raja. Bisa dipastikan, jangankan sutradaranya, yang menonton saja pasti gemes. Yang nggeregeti lagi, tidak sadar kekacauan plot cerita timbul dari ‘ngerasa dan tindakanya’. Kalau saya sutradaranya, sudah saya coret dan saya usir. Untungnya Sutradaranya Maha Pengasih dan Maha Pengampun. Begitulah kebiasaan kita sebagai manusia, selalu cenderung meleset dari rel yang telah ditetapkan.

Merasa pinter itu adalah tindakan yang lahir dari keterplesatan sesorang dari relnya. Dan secara alamiyah, bila seseorang tidak tahu hakiki dirinya, orang lain akan memberikan ketidak-simpatikan pada dirinya. Coba saja anda bayangkan disamping anda ada kawan yang selalu merasa pinter, biasanya ia selalu ingin menang sendiri, perasaan apa yang tersimpan dalam hati anda terhadapnya? Nek. Yah dari sinilah sebenarnya judul ini di bahas.

Semua dari kita pasti merasa tidak senang dengan orang yang merasa pinter. Agaknya agama menyuruh umatnya untuk merendah, mendahulukan orang lain, bermanfaat bagi orang lain, dan semua yang masuk dalam kategori ‘hubunnas’, bertujuan untuk disenangi oleh Tuhanya, oleh lainya. Yang pertama dalam memulai apa saja adalah disenangi. Jika semua orang menyenangi anda, maka anda telah berhasil mendapatkan apa apa yang anda inginkan termasuk keberhasilan yang anda dambakan. “yassiruu walaa tu’assiruu”, mudahkan jangan kamu susahkan, begitulah salah satu ajaran syariat kita.

Sekarang stop merasa pinter. Tidak ada menghasilkan apa-apa melainkan kerugian luar dalam. Merugi sekali seseorang yang tidak bisa bersinergi dengan orang lain. Tidak ada orang sukses dengan sendirinya (Baca pembahasanya di bagian : Membonceng Buraq red). Karenanya, sekali lagi, merasa pinter harus dijauhi kalau kepingin mendapati dirinya ada di posisi yang banyak diinginkan orang.

Pinter Merasa
Kebalikanya, jika menginginkan sukses, harus menumbuh-suburkan pinter merasa. Orang yang pandai merasa dimana pun dia berada, maka bumi semua akan menjadi tanah kelahiranya. Tidak ada istilah merantau baginya. Merantau hanya milik Iko Uwais. Semua orang kan menaruh simpatik kepada orang yang pinter merasa. Mertua pasti senang dengan menantu yang tidak usah disuruh dalam beraktifitas; pemimpin pasti merasa senang terhadap bawahanya yang mengerti dengan apa yang harus ia lakukan. Semua, kecuali orang yang dengki, pasti akan menaruh simpati plus empati terhadap kita, jika kita mempunyai kepekaan tinggi dalam pinter merasa.

orang yang pandai merasa, ia akan memiliki tawadu’, tahu diri. Bukankah Nabi Muhamad gemetaran saat pertama kali menerima wahyu. Beliau mengaku tidak bisa membaca, dan dinyatakan lewat gerak ketakutan saat Malaikat Jibril menyuruh “Iqra”. Begitulah contoh yang di ‘uswah’kan oleh teladan manusia. Tetapi sungguh sangat disayangkan, tidak sedikit dari umatnya yang ‘lari’ dari ajaran panutanya. Nabi Muhammad itu Pintar merasa, buktinya beliau gemetar ketakutan karena merasa tidak pinter.

Merasa jabatan, pimpinan adalah amanah, terus kemudian menjalankan dengan sebaiknya itulah cerminan orang-orang yang pandai merasa. Yang demikian jauh dari orang-orang yang merasa pintar. Lalu kaitanya dengan keberhasilan, dimananya?.

Keberhasilan dalam kehidupan dunia maupun ahirat pasti membutuhkan bantuan orang lain. Orang lain akan mudah mengulurkan bantuan apabil biasanya ia tertarik. Ketertarikan lahir dari sesuatu yang menyentuh. Dan imam dari semua ‘sentuh-menyentuh’ adalah pinter merasa. Tuan rumah akan tersentuh terhadap tamu yang bangun duluan lantas mengerjakan apa apa yang bisa dikerjakan untuk membantu meringankan kerepotanya. Itulah tamu yang pinter merasa. Tetapi coba tebak, kira-kira apa perasaan yang muncul pada tuan rumah terhadap tamu yang bangunya saat matahari di atas kepala? Lalu, kira kira simpati dan empati milik siapa, andai tuan rumah disuruh untuk memberikan itu?.

Disamping itu, pinter merasa, bisa menumbuhkan sifat bagus berikutnya seperti amanah, bisa dipercaya, komitmen, tidak pernah mengeluh yang kesemuanya adalah potongan puzzle yang akan menyempurnakan bentuk gambar keberhasilan. Ndak percaya? Jika seorang yang selalu menjadi imam dari tindakanya adalah perasaan, maka orang tersebut akan sekuat tenaga untuk tidak disuruh. Karena, di matanya, yang namanya disuruh itu hanya untuk orang yang ‘telmi’, alias telat mikir. Bila seseorang mempunyai filosofi demikian, bisa dipastikan ia akan banyak disenangi orang.

Saya duduk di kursi dalam bus menuju Jakarta. Duduk disamping saya seorang pengusaha sukses dari Madura. Saya mengetahui beliau setelah melalui basa-basi sebagai tetangga kursi. Setelah panjang lebar beliau menceritakan pengalamanya, ada yang sangat menarik perhatian saya: Beliau meraih kesuksesanya hanya bermodalkan kepercayaan dan pandai merasanya. Katanya kepercayaan itu lebih berharga dari apapun, dan kepercayaan itu lahir dari mengertinya kita terhadap apa yang digeluti.

Agama diturunkan untuk mengatur kebahagiaan manusia. Karenanya, sangat wajar, agama melarang manusia berbuat sombong, ujub, merasa pinter, sebab semua itu, kalau diteliti lebih, adalah penyebab penghalang kebahagiaan, juga kesuksesan. Biasanya, orang yang merasa pinter akan menutup hikmah yang datang bukan dari apa yang ia senangi. Dalam masalah ilmu, contohnya, ia tidak akan menerima kalau bukan dari yang sealiran denganya, biasanya menyepelekan ilmu yang keluar dari orang yang tidak ada ‘embel-embel’ nama belakangnya. Itu kan rugi ‘pangkat tiga’ namanya. Padahal Rasulullah saw sudah mewanti-wanti bahwa hikmah adalah milik orang mu’min, dan jika menemukanya harus diambil tidak usah dipedulikan ada dimana ditemukanya.

Dalam masalah kesuseksesan, banyak hikmah yang bisa diambil dari orang yang kadang tidak masuk hitungan seperti pada anak- anak. Terkadang orang yang dewasa malah kalah dibanding anak- anak. Anak -anak mempunyai sifat pantang menyerah, seperti saat mereka belajar naik sepada misalnya, puluhan kali jatuh tidak bisa menghentikan mereka dari keinginanya naik sepeda. Pada sisi lain, tidak jarang orang dewasa baru mengalami satu dua kali jatuh dalam memperjuangkan keinginanya langsung Jera.
Katakan “Merasa pintar No, pinter merasa yes !” wallohu’alam bishawab waiyyaka nasta’in.

(Penulis Adalah Pengasuh Pondok Pesantren “Bah Sarimah” Kec. Silou Kahean Kab.Simalungun)
Saran dan kritik ke Email : saifudinzainuri@gmail.com

Print Friendly, PDF & Email
tags: , , , , ,

Related For Pinter Merasa Yes, Merasa Pinter No !