Peranan Qurban Dalam Kenakalan Remaja

Senin, September 12th 2016. | Kolom |
Saifudin Zainuri (Zebod)

Saifudin Zainuri (Zebod)

OLEH : SAIFUDIN ZAINURI (ZEBOD)

Agama islam merupakan penyempurna bagi agama – agama sebelumnya. Karenanya, biasa juga islam disebut dengan milah Ibrahim. Artinya agama islam mencakup syariat – syariat yang dibawa oleh Nabi Ibrahim. Misalnya : haji, khitan, qurban. khusus dalam qurban, syariat ini, berdasarkan kejadian yang dialami Nabi Ibrahim dengan putranya, Nabi Ismail. Kejadian ini diabadikan di dalam al-Qur’an.

“Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku Sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku Termasuk orang-orang yang sabar”. QS. 37: 102.

Dalam syariat qurban ini, sedikitnya ada tiga pelajaran yang bisa kita petik. Pertama : syariat Nabi Agung kita menggunakan syariat dari Nabi Ibrahim (milah Ibrahim). Hikmah yang terdapat dalam syariat ini adalah mengajari kita untuk tidak lupa akan sejarah. Sejarah dalam kehidupan manusia tidak bisa dipandang sebelah mata kedudukanya. Pentingnya sejarah diperkuat dengan banyaknya al-Quran menceritakan sejarah umat – umat lalu. Pemaparan sejarah oleh al-Qur’an bukan tanpa maksud. Mengingat segala yang ada dalam al-Qur’an adalah mu’jizat, maka termasuk di dalamnya penceritaan sejarah. Yang paling terlihat adalah agar kita bisa mengambil hikmah umat – umat yang terdahulu. Agar bisa menjadikan iktibar untuk menjadi pedoman dalam menghadapi kehidupan. Bagaimana Allah swt meng-adzab umat yang terdahulu karena mereka banyak melakukan maksiat. Bagaiaman Allah meninggikan drajat orang – orang yang mengikuti aturan – aturan-Nya.

Khusus sejarah pada Nabi Ibrahim, kita dapat mengambil pelajaran bagaimana beliau berhasil menjadikan generasi penerusnya menjadi generasi para nabi (termasuk Nabi Muhammad saw).

Nabi Ibrahim lebih mendahulukan yang di-inginkan oleh Allah daripada mendahulukan apa yang menjadi keinginan dirinya. Sekian lama beliau menunggu lahirnya anak dalam keluarganya. Setelah mempunyai anak, dalam keadaan anak sedang banyak memberi tingkah menggemaskan, datang perintah dari Allah untuk menyembelih anaknya, dan Nabi Ibrahim lebih memilih mengambil perintah Allah. Inilah benang merah yang penting untuk ditarik guna menjadi pedoman. Sekarang banyak dari kita yang memilih keinginaan diri dan menomorduakan perintah Allah.

Dan biasanya, gara – gara anak orang tua akan melakukan apa saja walau melanggar syariat sekalipun. Padahal saat seseorang lebih memilih Allah swt, disitu Allah mengetahui dan akan menjadi penolong baginya dan anak keturunanya. Masalah ini sudah jauh dari pantaun umat. Kita ‘terlalu sombong’ menganggap bahwa bisa menjadikan anak – anak kita anak yang baik berbekal dengan pengetahuan yang kita dapati. Tidak sedikitpun – terkadang – terlintas bahwa Allah campur tangan dalam masalah pendidikan anak. Memang benar, ilmu yang kita punya bisa membantu. Tetapi itu hanya diantaranya, bukan penyebab utama. Jika seseorang merasa mampu menjalani kehidupan dengan sendiri, maka Allah akan menyerahkan semuanya kepadanya. Sampai sebatas mana sih kemampuan kita dalam membendung waswasilkhonas?.

‘Iitsar fiddunyaa mathlubun’ begitulah kaidah fiqih mengajari kita. Mendahulukan kepentingan orang lain, termasuk kepentingan Allah, itu dianjurkan. Kekuatan mendahulukan kepentingan orang lain sangatlah besar manfaatnya dalam kehidupan ini. Dan ternyata, manfaatnya tidak hanya untuk orang lain, melainkan merembet untuk kebaikan si pelakunya. Sampai ke generasinya. Syeh Sadiduddin Asyirazi berkata, “berkata syeh kami,” ‘barang siapa yang mengendaki anaknya ‘alim, maka hendaknya orang tersebut memperhatikan, memulyakan, mengagungkan, dan memberi sesuatu kepada ulama fiqih yang hijrah. Dan jika anaknya tidak alim, maka keterunanya yang alim.’ (lihat Ta’lim muta’alim Syeh Ibrahim bin Ismail. Soh. 17).

Mendahulukan kepentingan Allah berarti menyerahkan segalanya kepada-Nya. Jika sudah demikian, Allah swt akan membantu semua urusan yang dihadapinya termasuk urusan pendidikan anak – anaknya. Ingat dengan Nabi Ibrahim memilih melaksanakan perintah menyembelih anaknya, Allah menggantinya dengan kambing dan menjadikan keturunanya pemimpin – pemimpin orang shaleh termasuk Nabi agung kita, Nabi Muhammad saw.

Kedua: Nabi Ibrahim AS meminta pendapat Nabi Ismail AS. Seharusnya para orang tua tidak usah segan meminta pendapat anak – anak kalau dirasa perlu seperti yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim. Meminta pendapat kepada anak akan melahirkan dampak positif bagi perkembangan psikolognya. Disinilah timbul ‘merasa dibutuhkan’ sehingga akan membuat anak berusaha merealisasikanya. Sehingga sangat lah wajar apabila kita menemukan anak – anak yang berpikir dewasa dan selalu cenderung positif didalam keluarga yang harmonis. Kebalikanya, jangan heran mendapati anak – anak yang cenderung melihatkan sikap negatif dalam keluarga yang tidak harmonis.

Secara pemikirian (IQ) mungkin Nabi Ismail, saat dimintai pendapat belumlah cukup. Namun secara hati (EQ) belum tentu demikian. Kecerdasaan hati yang dimiliki oleh Nabi ismail, dengan melihat tegasnya beliau memberi jawaban, kuat dugaan karena dimintai pendapat oleh ayahnya. Mungkin akan lain ceritanya apabila Nabi Ibrahim langsung melaksanakan perintah dengan tanpa bermusyawarah terlebih dulu.

Namun sungguh sangat disayangkan banyak dari kita yang tidak menangkap pelajaran dari sejarah masa lalu. Orang tua seringkali menganggap sepele anaknya. Jarang sekali orang tua yang melibatkan anak – anaknya ikut bermusyawarah, mereka lebih memilih memfonis salah terhadap anaknya apabila anaknya melakukan kekeliruan. Tidak mempedulikan dampak dari fonisnya. Memang diam si anak saat dijatuhi fonis, tetapi apa ia hatinya juga diam? Sekali –duakali fonis itu’manjur’ untuk menghakimi. Ketiga kalinya anak akan berontak dengan bahasanya sendiri. ‘pelajaran’ yang didapat dari orang tuanya akan diadopsinya dan diterapkan kepada sekelilingnya.

Mel Levine, M.D dalam bukunya A Mind at a time yang diterjemahkan dalam fersi Indonesia, “Menemukan bakat istimewa anak”, mengatakan bahwa kondisi sosial-ekonomi sangat berpengaruh bagi perkembangan anak. Dia mencotohkan seorang anak yang oleh orangtuanya selalu diajak berdiskusi tentang beberapa hal. Prestasi belajar anak tersebut sangat cemerlang dan ia selalu haus akan pengetahuan baru.

Ketiga : “Insyaalah engkau akan menemukan saya dari golongan orang-orang sabar” begitulah yang dikatakan Nabi Ismail. Kenakalan remaja baik tawuran, bolos sekolah, maupun yang lainya adalah satu penyebabnya: tidak sabar.

Pendidikan kesabaran disekolah pada saat sekarang ini bagaikan bidadari, sulit mencarinya. Yang diujian nasionalkan contohnya, semuanya berbaziz pada IQ. Anak yang sabar dengan IQ rendah bisa dipastikan tidak lulus. Kan aneh, yah? Setali tiga uang. Dikehidupan rumah tangga hampir kebanyakan orang tua akan selalu mengikuti kehendak anaknya. Sampai – sampai ada orang tua yang menjual apa saja karena anaknya meminta sepeda motor. Permintaan anak bukan muncul saat sekarang saja. Sejak dulu juga ada. Perbedaan dalam menyikapi permintaan saja yang menjadi ukuran.

Jika dulu orang tua menyadarkan anak dengan meminta untuk bersabar, untuk berusaha memahami dan mendahulukan sesuatu yang lebih penting. Lingkungan juga membantu orang tua menanam sifat sabar seperti di sekolah – sekolah , di tempat – tempat pengajian, di kehidupan bertetangga. Coba sekarang, langka! Orang tua jelas berat berjuang sendiri mematri sifat sabar dalam diri anaknya. Seluruhnya berlomba untuk meng-instan-kan masalah. ‘alon-alon asal kelakon’ yang simbol kesabaran sudah terbang ke surga.

Penutup
Kenakalan remaja bisa diminimalkan dengan memakai semangat qurban yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim. Orang tua harus berani ber-‘qurban’ menyediakan waktu untuk berdiskusi dengan anaknya. Berani mengorbankan kepentingan dirinya untuk memilih mendahulukan kepentingan Yang Maha Kuasa.

Sedini mungkin anak diajari sifat sabar. Mengalahkan rasa ‘kasihan’ kalau anak tidak dituruti keinginanya. Anak perlu belajar sabar terhadap keadaan dengan cara orang tua tidak menuruti segala keinginanya. Dan pemerintah tidak ada salahnya meninjau kembali pendidikan pada saat ini. Bila perlu pendidikan kesabaran diikutkan ujian nasional. Memang ketiga unsur yakni, berkurbanya orang tua, dan pendidikan kesabaran anak, turut memperhatikanya pemerintah tidak lantas bisa menyulap anak remaja menjadi baik seketika. Semua maklum bahwa sekarang terdapat ribuan faktor yang mempengaruhi remaja. Namun, setidaknya ada langkah konkrit berdasarkan nilai – nilai syariat yang jelas datang dari Dzat yang maha tahu. Wallahu ;alam bishawab.

(Penulis Adalah Pengasuh Pondok Pesantren “Bah Sarimah” Kec. Silou Kahean Kab.Simalungun)
Saran dan kritik ke Email : saifudinzainuri@gmail.com

Print Friendly, PDF & Email
tags: , , , , , ,

Related For Peranan Qurban Dalam Kenakalan Remaja