Dimas Kanjeng Versus Al-Qur’an

Senin, Oktober 24th 2016. | Kolom |
Saifudin Zainuri (Zebod)

Saifudin Zainuri (Zebod)

Oleh: Saifudin Zainuri (Zebod)

“Bermegah-megahan telah melalaikan kamu sampai kamu masuk ke dalam kubur.”QS. at-Takatsur:1-2.

Belakangan ini di layar Televisi, hampir tiap saat menayangkan tentang padepokan Dimas Kanjeng yang dipimpin oleh Taat Pribadi. Menggandakan uang, begitulah disebutkan kehebatan Kehebatan Sang Guru Besar Padepokan yang berada di Probolingko itu. Namun dalam tulisan ini, penulis tidak tertarik tentang bagaimana cara Saudara Taat Pribadi melipat-gandakan uang. Akan tetapi penulis lebih tertarik pada begitu banyak pengikutnya, yang berarti masih banyak umat Islam, karena uang, tidak lagi mempedulikan proses boleh-tidaknya cara, yang penting mendapatkanya, yang berarti hukum syariat sudah tidak krusial lagi dalam pandanganya. Memprihatinkan!.

Teringat waktu saya masih nyantri di Pesantren. Saat pengajian tafsir QS.2:38, Mbah Yai menjelaskan bahwa dalam menghadapi kehidupan dunia ada petunjuk yang diridhoi Allah, ada petunjuk yang tidak diridhoi. Menghadapi anak-isteri menangis karena tidak punya uang untuk membeli makanan adalah problem yang harus dicarikan jalan keluarnya. Jalan keluarnya semua terserah. Mau jalan yang diridhoi atau yang tidak. Jika ia berusaha dengan bekerja, itu diridhoi, tapi jika ia mencuri, itu dimarahi.

Mana jalan keluar yang diridhoi oleh-Nya?, Syariat sudah memberitahukan dengan jelas. Secara garis besar syariat memberitahukan bahwa semua yang membutuhkan proses itu yang diridhoi-Nya. Jadi, apa-apa yang tergesa gesa itu biasanya tidak. Bahkan biasabta yang tergesa-gesa dari syaitan dan biasanya yang tergesa gesa berujung negatif.

Pemahaman ini berdasar beberapa dalil. Pertama, hadis Rasulullah berikut, “Tergesa-gesa itu dari Syaitan, kecuali pada lima perkara..”. Kedua, QS.32:4 berikut, “Allah lah yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dalam enam masa,..”. Ketiga, setiap ayat pada al_Qur’an yang athof menggunakan wawu itu berujung negatif. Sementara yang memakai fa, itu berujung positif. Wawu itu bermakna mutlak jam’i, atau bisa dimengerti dengan sekaligus, tergesa. Sedangkan fa bermakna tertib, proses.

Menggandakan uang dengan berinventasi, menjual barang dagangan, memelihara ternak, mercocok tanam, itu semua butuh proses yang berarti sesuai dengan dalil-dalil agama. Tapi, menggandakan uang dengan menaruh dikantongnya seseorang lalu uangnya bisa berlipat, itu cepat kali. Taat Pribadi berarti tidak membutuhkan proses, berarti menentang apa yang Allah swt kehendaki. Allah saja yang Paling Maha menggunakan proses enam masa saat menciptakan langit, bumi dan seisinya. Dia, seorang mahluk, tidak memakai proses. Berdasarkan info dari al-Quran bahwa yang tergesa berujung negatif, maka kita bisa mengetahui bersama ending Padepokan Taat Pribadi dan pengikutnya.

Kalau seseorang Taat Pribadi terlihat begitu hebat dengan bisa cepat menggandakan ataupun mengadakan uang menurut pengikutnya, Syaitan lebih hebat dari itu. Tapi, apakah lantas kita punya alasan untuk mengikut syaitan ?, pasti tidak. Yang harus diikuti adalah Allah dan Rasul-Nya. Allah swt Maha Mengetahui, karena itu pasti mengerti semua kebutuhan hambanya. Termasuk dalam hal kebutuhan ekonominya.

Menggandakan Uang Ala al-Quran
Kalau semua umat Islam kembali kepada Allah dan Rasul-Nya dengan guider-Nya: Al-Qur’an, niscaya umat Islam mendapati dirinya sebagai umat yang paling sukses, khoira umatin.

Dalam hal menggandakan uang, al-Qur’an tidak kurang menginformasikan. Lihatlah al-Qur’an mengungkapkan “baiun”, jualan. Apakah itu bukan signal untuk menggandakan uang ? Betapa komplitnya al-Qur’an memberikan petunjuk. Bagi umat Islam yang kebingungan mau jualan apa. al-Qur’an menunjukan dengan ungkapan “ libasun”, pakaian, juga “ it’amun”, makanan. Fashion dan kuliner, begitu al-Qur’an mengajak umat islam menggandakan uangnya. Cara yang ditawarkan oleh al-Qur’an sesuai dengan semuanya, tidak ada tabrak sana-sini.

Dunia ikut menegaskan bahwa cara efektif dan spektakuler dalam menggandakan uang adalah dengan berdagang. Berdagang makanan menempati posisi utama. Sebut saja Philip Sanderos dengan KFC-nya, Asep Sulaiman dengan ternak ayam potongnya. Coba bandingkan kekayaan mereka dengan Taat Pribadi, apa kalah?.

Berdagang adalah ujung tombak, aktif bergerak untuk bisa menggandakan uang. Disamping cara menggandakan uang dengan cara aktif, al-Qur’an juga mengajari imkan-pasif. Duduk saja tetap mengalir pundi-pundi uangnya. “diyaar”, rumah –rumah. Properti. Itu cara pasif. Bisnis properti benar-benar pasif tapi sangat menguntungkan. Kebetulan ada salah satu teman yang berbisnis di bidang ini. Katanya, bisnis properti tidak pernah mengenal rugi. Apa pasal ? Misalkan tidak laku, tetap saja untung. Karena semakin ke depan, semakin naik harga.

Masuk kategori imkan-pasif adalah “harsun”, kebun, “An’am”, ternak. Kuat dugaan al-Qur’an menyuruh umatnya untuk berdagang pakaian atau makanan. Karena keduanya, dalam tinjauan fiqih itu kebagusan muta’adi, merembet yang tentunya lebih baik ketimbang kebaikan yang berhenti. Dengan dagang pakaian, banyak orang tertutupi auratnya. Dengan dagang makanan, banyak orang kuat beraktifitas. Setelah itu, dianjurkan untuk mengembangkan bisnis yang menekankan inventasi: ternak, kebun, dan properti. Andaikan umat Islam dekat dengan al-Qur’an dan menjalankan petunjuk-petunjuknya, bisa dibayangkan betapa kuatnya kehidupanya. Lalu setelah kuat ekonominya, diajarkan untuk mempertahankan dengan sedekah, infak, dan zakat agar tidak masuk golongan orang yang menumpuk-numpuk harta.

Begitulah cara menggandakan uang yang berproses. Cara yang diridhoi oleh Allah dan Rasul-Nya. Bukan cara yang super kilat seperti yang dilakukan oleh Taat Pribadi. Becik ketitik, olo ketoro, yang baik akan terlihat, yang jahat akan terlihat. Mari kita lihat bersama. Siapa yang endingnya positif, siapa yang negatif. Pengikut al-Qur’an, atau pengikut Taat Pribadi yang positif endingnya. Wallahu’alam bishawab
(Penulis : Pengasuh Pesantren Nahu-Shorof Bahsarimah, Silou Kahean Kab.Simalungun)

 

sumber : analisa

Print Friendly, PDF & Email

Related For Dimas Kanjeng Versus Al-Qur’an