BIBIR DI BELAKANG HATI

Sabtu, Desember 12th 2015. | Kolom |

saifuddin ZOleh : Mu’allim Saifudin Zainuri (Zebod)

“Sesungguhnya keadaan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: “Jadilah!” Maka terjadilah ia. Q.S. Yasin :82

Dua unsur sangat mempengaruhi terjadinya warna kehidupan seorang hamba: Kehendak dan berkata. Kehendak atau bisa juga disebut ide sejatinya selalu dibicarakan dalam Agama. Dalam taqdir, misalnya, Allah memberitahukan lewat Rasul-Nya, bahwa sebelum manusia lahir di dunia, sudah tertulis garis kehidupanya di Lauhul Mahfudz, Keputusan Allah pada zaman azali yang biasa disebut oleh ulama kalam sebagai Qada akan terwujud pada dunia nyata yang biasanya disebut dengan taqdir.

Bila kita memperhatikan dengan seksama masalah Qada-Qadar, ada yang menarik perhatian dan sulit untuk berpaling dari itu. Sebelum kejadian pada alam kenyataan ternyata semua itu sudah ada pada alam azali, tidakah zaman azali itu adalah sebuah ide, atau kehendak ?, Dengan bahasa yang lebih sederhana ternyata setiap yang muncul di sekitar kita adalah berawal dari sebuah ide.

“Kamu ada, karena kamu berpikir ada” Begitulah sebagian filosof menyampaikan. Filsafat tersebut mendekati dengan apa yang disampaikan oleh al-Qur’an. Kalau filsafat hanya menawarkan pikir saja, Al-Qur’an lebih maju darinya. Al-Qur’an, disamping menyebut “pikir”, juga menyebut “berkata” (Baca Q.S yasin: 82).

Lebih lanjut, Al-Qur’an menjamin keberhasilan menggunakan teori itu dengan menutup penyampainya menggunakan “kun fayakun”. Yang lebih ‘ijaz lagi, Al-Qur’an menaruh perkataan di belakang pemikiran. Sudah mafhum peletakan kata pada al-Qur’an juga merupakan kemukjizatan seperti yang dikatakan oleh para ahli balaghah.

Kuat dugaan, dirutinkanya bacaan Yasin oleh para ulama terdahulu pada setiap malam jumat, disamping syiar, juga menanamkan secara sembunyi teori keberhasilan mendapatkan sesuatu yang qur’ani. Yang mana itu teorinya ?.

Ngerenteg, kehendak sifat inilah yang membuat manusia mampu menempatkan posisi dirinya pada posisi yang tertinggi. Langkah pertama yang harus dilakukan untuk mendapatkan sesuatu adalah menghadirkan di dalam hati terlebih dahulu sesuatu tersebut (arada syaian) lantas berikutnya harus mempunyai keberanian untuk mengungkapkanya (ayyaqula lahu). harus ada keberanian mengutarakan apa yang diingini, karena kalau tidak ada keberanian akan menjadi penghambat keinginan tersebut terwujud.

Seorang anak kecil yang menginginkan sepeda mini. Dia memendam keinginanya, tidak diutarakanya kepada orang tuanya. Kebetulan, karena orang tuanya seorang petani yang tebal-tipis-nya saku tergantung kepanenan, maka ia rajin membantu orang tuanya saat musim tanam dimulai, dengan harapan setelah panen ia dibelikan sepeda oleh orang tuanya.

Tiba musim panen datang, sepeda itu tidak kunjung dibelikan, bahkan sepekan setelah panen, kedua orang tuanya malah membelikan sepeda motor kakaknya yang jarang membantu orang tuanya ke ladang, kenapa begitu ?, Karena kakaknya selalu meminta disetiap kesempatan, dan meminta tidak kenal lelah. Sedangkan dia keinginanya hanya sebatas hati, tidak keluar lewat bibir.

Pernah mendengar kalimat, “itu orang kemakan omonganya?”, Kalimat itu bisa sebagai dalil akan kekuatan sebuah omongan. Berkata asal keluar saja sering langsung diijabah oleh-Nya, terlebih-lebih berkata setelah mendengarkan kata hati.

Masih berkaitan dengan ayat di atas, dengan mendahulukan kehendak terlebih dahulu, semestinya manusia benar-benar memposisikan hati sebagai imam. Artinya apa-apa yang akan diucapkan seyogyanya disampaikan ke hati. “Lidah orang alim ada dihatinya dan hati orang awam ada di lidahnya” begitulah kata ulama.

Orang-orang yang berkata tidak memikirkan terhadap efek perkataan adalah orang yang tidak menjadikan hatinya sebagai imam. Padahal segala yang terucap pasti mempunyai dampak terhadap diri sendiri dan sekitar. Masalah ini sudah diingatkan al-Qur’an : “Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya Malaikat Pengawas yang selalu hadir.” Q.S. 50:18.

“Yang selalu hadir” agaknya menyimpan sebuah ancaman yang mesti dipikirkan. Kehadiran akibat ucapan bisa langsung seketika itu, juga bisa menunggu. Akibat yang langsung seperti anda bertanya kepada seseorang yang sedang berpuasa, “ Apakah anda berpuasa ?” jika ia menjawab “ya”, maka ia terjebak dalam riya yang bisa jadi sebenarnya ingin dihindarinya. Namun jika ia menjawab “tidak” maka ia telah berbohong. Kalau ia diam saja tidak menjawab, maka orang akan menganggap ia angkuh. Kalau ia berusaha mencari jawaban yang diplomatis, maka kasihan dia memeras pikiranya untuk mencari kata-kata yang diplomatis. Begitulah kurang lebih Imam Ghazali menyampaikan dampak dari perkataan.

Akibat perkataan yang tidak langsung adalah seperti yang terjadi pada Nabi Ibrahim AS. Saat beliau mampu menyedehkahkan kambing banyak dan ada orang mengaguminya. Beliau menjawab, ”jangankan hanya kambing andaikan anak sekalipun kalau untuk yang Maha Kuasa akan saya serahkan”, begitulah kurang lebih Nabi Ibrahim mengungkapkan tentang sedekahnya. Saat berkata begitu beliau belum mempunyai anak, namun lahir Nabi Ismail, perkataanya terbukti yakni disuruh untuk menyembelih anaknya yang lama ditunggu.

Dengan melihat ayat di atas, sesungguhnya untuk mendapatkan sesuatu itu Cuma membutuhkan dua syarat. (ayat tersebut menggunakan adat qasr “innama” yang berarti meringkas ) Pertama harus berkomunikasi di dalam hati tentang apa-apa yang mau dijadikan pilihan. Singkatnya, harus berani berpikir tentang apa yang diinginkan ; harus berani berkehendak menghadirkan sesuatu. Kekalahan orang, kata para motifator, adalah karena tidak beraninya dia berpikir bahwa dirinya pantas berada di tempat kemenangan.

Langkah yang membantu untuk bisa menghadirkan pikiran di dalam hati adalah bisa dengan mendekatkan diri dengan orang orang yang sudah duluan menang ; bisa dengan membaca buku-buku bermutu yang berkaitan dengan masalah itu, bisa dengan men-tadaburi terhadap sekeliling dan yang paling penting berdoa kepada-Nya agar ditunjukan jalan menuju ke arah tempat tersebut.

Kedua, harus mempunyai keberanian untuk mengkomunikasikan yang sudah dipikirkan lewat bahasa, baik bahasa lidah, maupun bahasa tindakan. Karena sehebat apapun sebuah ide yang menentukan adalah keberanian menerapkan ide dengan tindakan yang nyata. Sebab di sana terdapat pembenahan terhadap kelemahan-kelemahan dan ada kesungguhan.

Dalam bahasa agama keberanian melakukan tindakan untuk merealisasikan sebuah kehendak disebut niat, “qosdu syai muqtaranan bifi’lihi”. Jika kehendak hanya sebatas kehendak saja, maka disebut “Azm” , mimpi. Dan niat itulah yang selalu disampaikan oleh Rasulullah saw, bukan azm.

Filosofi ini, jauh sebelum motifator kelas dunia mengungkapkan sudah tersampaikan oleh al-Qur’an. sehingga tidak berlebihan kalau dikatakan bahwa ajaran Islam adalah Rahmatan lil ‘alamin.

”Kita semua menghasilkan dua macam komunikasi yang mmeperbaharui pengalaman hidup kita. Pertama, kita melakukan komunikasi dalam, semua benda yang kita bayangkan, katakan, dan rasakan dalam tubuh kita. Kedua, kita merasakan komunikasi luar, perkataan, nada, ekspresi wajah, bentuk tubuh, dan tindakan fisik untuk berkomunikasi dengan dunia.” Begitu komentar Anthony Robins.

Masih katanya, rumus keberhasilan optimal adalah pertama mengetahui apa yang ingin dihasilkan, yaitu, tepatnya menentukan dengan tepat apa yang diinginkan. Kedua adalah bertindak kecuali kalau anda menginginkan itu tetap tinggal mimpi.

Edmund Spenser berkata hampir senada, “Adalah pikiran yang membuat kebaikan dan keburukan. Yang menyebabkan kehancuran atau kebahagiaan, kaya atau miskin.” Begitu juga Ralpn Waldo Emerson, “Nenek moyang setiap tindakan adalah pikiran.” Wiliam Shakespeare mempertegas, “ Tidak ada yang baik atau buruk, tetapi pemikiranlah yang membuatnya demikian”.

Siapa saja yang menggunakan pemikiranya untuk mencari sesuatu nilai pada ujungnya akan sesuai dengan ayat-ayat-Nya, tidak peduli dilandasi dengan keimanan kepada-Nya atau tidak. Itulah, sekali lagi, bukti bahwa Dia Maha Pemurah sehingga siapa saja yang mencari akan dikasih. Semestinya orang-orang yang mempercayai-Nya lebih dalam mencari, lebih serius menggali karena dari awalnya sudah mempunyai nilai tambah dibanding dengan yang tidak percaya.

Setelah menemukan nilai itu jangan diganggu oleh was-was. “Sami’naa waatho’naa” begitulah singkatnya. Jangan menyangsikan terhadap aturan-aturan-Nya. Begitu diberi pengetahuan secepatnya langsung di-folow-up-i dengan tindakan agar dapat merasakan kemukjizatan aturan-Nya. Begitu juga dengan teori krenteg hati kemudian berkata. Kerjakan langsung, insyallah akan melihat hasil yang membuat geleng kepala,- (Penulis adalah Pengasuh Ponpes Al -Ittihadiyah Bah Sarimah – Simalungun)

Print Friendly, PDF & Email
tags: , , , ,

Related For BIBIR DI BELAKANG HATI