BANJIR  DAN UU LINGKUNGAN HIDUP NO 4 TAHUN 1982

Kamis, Mei 16th 2019. | Kolom |

OLEH : ERIKA PUSPITA SARI

Sungai merupakan asset sumber daya alam (SDA) yang paling potensial di kota Tebing Tinggi, namun pada kenyataannya hingga saat ini potensi tersebut seolah terlupakan  dan tidak menjadi bahan pemikiran. Buktinya hingga saat ini sudah begitu banyak pemimpin daerah dikota ini saling berganti, tapi perhatian kearah potensi SDA yang satu ini seakan tidak tersentuh. 

Tercatat ada beberapa sungai yang melintasi kota Tebingtinggi  yaitu, Sungai Padang, Sungai Bahilang, Sungai Bah Sumbu, Kelembah. Sementara terdapat puluhan alur yang merupakan sungai kering yang sewaktu-waktu berfungsi sebagai alur resapan dan saluran air kala hujan turun.  Saat ini kondisi sungai yang melintasi kota Tebingtinggi sangat-sangat memprihatinkan. Limbah pabrik industri dan rumah tangga menjadi hantu yang menakutkan bagi kelestarian dan masa depan air sungai serta habitat yang ada didalamnya. Sehingga diperkirakan dalam jangka waktu setengah dekade lagi, sungai-sungai yang ada akan menjadi sumber petaka bagi warga disekitarnya karena lingkungan sungainya yang sudah rusak.

Sebenarnya, kebijaksanaan lingkungan hidup secara umum telah diatur dalam UU No.4 tahun 1982 jo UU No.23 tahun 1997 pada pasal 6 ayat 1 disebutkan bahwa setiap orang berkewajiban memelihara kelestarian fungsi lingkungan hidup serta mencegah dan menanggulangi pencemaran air dan sungai sebagai upaya untuk melestarikan dan mencegah terjadinya kerusakan lingkungan hidup.

Sejalan dengan hal itu, pencemaran yang dikhawatirkan dewasa ini adalah disebabkan oleh industri-industri besar seperti industri pabrik kelapa sawit, industri crumb-rubber (karet) dan  industri pengolahan tepung tapioka maupun pabrik industri lainnya disepanjang aluran sungai yang membelah kota ini.

Disamping limbah, upaya penyempitan alur sungai terlihat juga sangat mengkhawa-tirkan. Kini semua sungai yang ada, sudah tidak ada lagi jalur hijau sebagai areal bebas hunian, yang ada bangunan rumah warga yang saling berhimpitan dan kemudian tanpa disadari penghuninya melakukan penyempitan alur sungai. Maka terlihat dibeberapa lokasi alur sungai hanya tinggal beberapa meter lagi dari kondisi sebelumnya yang cukup lebar. Itu terpantau dari sungai Bahilang, yang membelah inti kota terutama di kelurahan Persiakan, Tualang, Mandailing, Pasar Gambir dan Pasar Baru lokasi yang padat hunian, demikian pula di sungai Padang serta beberapa sungai kecil lainnya.

Maka dapat dipastikan bahwa tingkat  pencemaran terhadap sungai di kota Tebingtinggi saat ini sudah sungguh sangat mengkhawatirkan, sehingga wajar jika sewaktu-waktu kota ini dilanda banjir secara tiba-tiba.

Pada dasarnya banjir dikota Tebingtinggi sering terjadi  disebabkan oleh luapan aliran air yang terjadi pada saluran atau sungai. Hujan juga merupakan faktor utama penyebab banjir, perubahan iklim menyebabkan pola hujan berubah dimana saat ini hujan yang terjadi mempunyai waktu yang pendek tetapi intensitasnya tinggi. Akibat keadaan ini saluran-saluran yg ada tidak mampu lagi menampung besarnya aliran permukaan dan tanah cepat mengalami penjenuhan.

Sejalan dengan UU No.4 tahun 1982 jo UU No.23 tahun 1997 seperti yang dikemukakan diatas, sangat perlu kiranya diupayakan untuk membuat dan memberlakukan peraturan daerah (Perda) yang lebih mengegaskan akan penyelamatan dan antisipasi banjir dalam rangka melakukan pelestarian lingkungan khususnya keberadaan beberapa sungai yang ada dikota ini. Jika tidak, kelak anak cucu kita hanya akan menyesali generasi sebelumnya yang hanya mewarisi kehancuran sebuah ekosistem yang sebenarnya begitu indah dan mempesona sebagai sumber daya alam yang potensial untuk dimanfaatkan.

Berbicara solusi cara menanggulangi banjir, yang harus kita lihat terlebih dahulu adalah penyebab potensi banjir tersebut mengapa begitu tinggi di kota ini. Banjir bisa terjadi sebenarnya karena ulah manusia sendiri. Lihat saja, di kota Tebingtinggi sungai yang sebenarnya berfungsi untuk menampung air disalahgunakan untuk menampung sampah, disekitar sungai tersebut bahkan dijadikan pemukiman.

Kondisi tersebut di perparah lagi dengan kurangnya pepohonan yang berfungsi sebagai jantung kota. Bisa kita hitung sendiri kira  kira berapakah perbandingan antara hutan kota dengan gedung gedung bertingkat, mana yang lebih banyak?. Ibarat rumah, kota yang rawan banjir tersebut adalah rumah yang tidak memiliki atap dan jendela. Saat badai menyerang, otomatis tidak ada perlindungan sama sekali.

Semua pihak perlu kiranya menyatukan fikiran untuk mengatasi banjir secara bersama-sama. Rasa jenuh bahkan bosan sudah menghantui warga kota khususnya daerah rawan banjir. Secara umum ada beberapa langkah atau kebijakan guna meminimalkan bahaya banjir di Kota Tebingtinggi yakni :

Memfungsikan sungai dan selokan sebagaimana mestinya.  Sungai dan selokan adalah tempat aliran air, jangan sampai fungsinya berubah menjadi tempat sampah.

Larangan untuk membuat rumah di dekat sungai. Biasanya, yang mendirikan rumah di dekat sungai adalah para pendatang yang datang ke kota besar hanya dengan modal nekat. Akibatnya, keberadaan mereka bukannya membantu peningkatan perekonomian. Malah sebaliknya merusak lingkungan. Itu sebabnya, pemerintah seharusnya tegas melarang membuat rumah di dekat sungai dan melarang orang yang dengan tujuan tidak jelas datang ke kota dalam jangka waktu lama atau untuk menetap.

Menanam pohon ( penghijauan ) dan jangan menebangi pohon-pohon yang ada.  Pohon adalah salah satu penompang kehidupan di suatu kota. Selain untuk penghijauan penanaman pohon berfungsi juga untuk penanggulangan banjir dan pemproduksi oksigen.

Menyediakan Sistem Perparitan.  Parit yang telah dangkal akibat dari bahan-bahan sisa harus selalu dibersihkan. Dengan ini air limpahan dan hujan dapat dialirkan dengan baik. 

Proyek Pedalaman Sungai.. Kebanyakan kejadian banjir berlaku karena dangkalnya dasar sungai. Jika sebelumnya sungai mampu mengalirkan sejumlah air yang banyak dalam sesuatu masa, kini pengaliran telah berkurang. Ini disebabkan proses pemendapan dan pembuangan bahan-bahan buangan. Langkah untuk menangani masalah ini adalah dengan menjalankan proses pendalaman sungai dengan mengorek semua lumpur dan kekotoran yang terdapat di sungai. Bila proses ini dilakukan, sungai bukan saja menjadi dalam tetapi mampu mengalirkan jumlah air hujan dengan banyak.

Memelihara Hutan . Kegiatan pembalakan di mana perjalanan di daerah pinggir sungai digemari menyebabkan tanah terhakis dan runtuh ke sungai. Keadaan yang sama juga terjadi bila aktivitas pembalakan yang giat dilakukan di lereng-lereng bukit. Karena itu pemeliharaan hutan merupakan cara yang baik untuk mengatasi masalah banjir. Hutan dapat dijadikan kawasan tadahan yang mampu menyerap air hujan dari mengalir terus ke bumi. Hutan dapat berfungsi sebagai bunga karang (sponge) dengan menyerap air hujan dan mengalir dengan perlahan-lahan ke anak-anak sungai. Ia juga bertindak sebagai filter dalam menentukan kebersihan dan kejernihan air. Hutan mampu menyerap air hujan hingga mencapai 20%.  Kemudian air hujan ini dibebaskan kembali ke atmosfir dalam sejatan kondensasi. Hanya dengan ini saja pengurangan air hujan dapat dilakukan. 

Mengontrol Aktivitas Manusi. Banjir kilat yang terjadi terutama di kota disebabkan pembuangan sampah dan sisa industri ke sungai dan parit. Bagi menangani masalah ini, kesadaran kepada masyarakat perlu diungkapkan agar kegiatan negatif tidak terus dilakukan seperti mengadakan kampanye mencintai sungai dan sebagainya. Badan-badan tertentu juga harus bertanggung jawab menentukan sungai sentiasa bersih dan tidak dijadikan tempat pembuangan sampah. Kejadian banjir merupakan bencana yang tidak dapat dihindari khususnya bila melibatkan hujan lebat. Namun usaha seharusnya dibuat untuk mengurangi akibat banjir. Manusia juga harus selalu waspada dengan kejadian ini.

Kesadaran bersama dibutuhkan untuk sama – sama menjaga kebersihan dan keindahan sungai yang menjadi kebanggan kota ini. Dengan tidak membuang sampah ke sungai dan bagi para pengusaha tidak membuang limbahnya ke sungai, maka ini merupakan anugerah bagi kita dan kelak tidak menjadi sumber malapetaka yang disesali keberadaannya.***

Print Friendly, PDF & Email

Related For BANJIR  DAN UU LINGKUNGAN HIDUP NO 4 TAHUN 1982